Into The Wild_Long Journey_Adventure

Baduy Diantara Batas Jaman

269655_2136286283326_1131163954_32523433_7233946_n

Kisah yang akan diceritakan disini mengenai perjalanan dua orang petualang yang menggebu untuk “berkenalan” dengan suatu suku bernama “Baduy”.

kisah ini bermula dari keinginan seorang sahabat bernama Valdy untuk menggugurkan rasa ingin tahunya tentang kisah suku Baduy, dan kisah perjalanan itu pun dimulai…

24 Agustus 2012 (H-1 Perjalanan)

Waktu menunjukkan matahari masih sejuk, ku liihat ada sebuah pesan singkat dari Valdy, setelah pesan itu dibuka, dan berisi mengenai keinginan Valdy untuk melakukan perjalanan ke Baduy, lalu saya menawarkan untuk singgah ditempat saya, dengan rencana perjalanan akan dimulai keesokan harinya dari rumah saya, dan sekalian menjadi tempat bertemu dengan sahabatnya Valdy yang dari kota Jakarta di Balaraja (daerah tempat tinggal saya yang berada di Kabupaten Tangerang, tetapi lebih dekat ke daerah Serang, Rangkas dan sekitarnya). Setelah berkomunikasi melalui pesan singkat maka keputusan pun diambil dengan Valdy menginap semalam dirumah saya.

Valdy melakukan perjalanan dari Bandung menuju Balaraja sekitar pukul 14:20 WIB (entah seperti apa perasaan Valdy saat berada di Bis dan melakukan perjalanan pertama kali menuju daerah Balaraja, – capek mereun nyak, bray..hehe). Mengetahui bahwa Valdy akan melakukan perjalanan (backpacker) dengan tujuan Baduy, saya pun langsung tertarik untuk melakukan perjalanan yang sama ke Baduy (mengingat saya pun belum pernah ke Baduy). Di sela waktu menunggu kedatangan Valdy, saya mengutarakan niat kepada kedua orang tua untuk ikut melakukan perjalanan dengan Valdy menuju Baduy, dan tanggapan mereka sangat dingin, dan saya terus mendekati kedua orang tua  untuk mendapatkan izin, tidak hanya kedua orang tua ,tapi saya juga bercerita kepada nenek untuk pergi ke Baduy, tapi, respon nenek saya tentang Baduy sangat berlebihan, dan berkata kalo Baduy itu tidak boleh macem-macem, banyak mitos dan penduduk Baduy nya menyeramkan, ahh tapi saya tidak perduli, dengan niat baik semua itu pasti akan berjalan baik. Waktu terus berjalan, dan pada pukul 19:26 WIB Valdy tiba di Balaraja, dan kemudian saya menjemputnya, saat melihat setelan Valdy yang sudah siap dengan day pack (45 Ltr), jujur saja itu membuat saya iri, dan didalam hati berharap esok dapat melakukan perjalanan menuju Baduy, tak lama langsung menuju rumah dan tiba dirumah pukul 19:48 WIB.

Sesampainya dirumah, Valdy langsung disambut oleh kedua orang tua saya, dan Valdy langsung beristirahat sambil menunggu hidangan makan malam, dan saat hidangan siap, kami pun makan sambil bercakap-cakap dengan kedua orang tua saya, dan Valdy mengaku bahwa ia pertama kali ke Balaraja. Setelah makan, kami berdua keluar rumah dan duduk di sebuah pos dekat rumah dan menghabiskan malam dengan bercerita..

25 Agustus 2012 (Berangkat-Rangkas-Ciboleger-Baduy-Ds.Cibeo)

Pagi sudah tiba, dan kami bersiap untuk membersihkan diri, dengan Valdy membersihkan diri terlebih dahulu, dan diwaktu itu saya kembali meminta izin kepada kedua orang tua, dan berharap diberi “bekal” untuk perjalanan menuju Baduy, dan setelah meminta izin dari kedua orang tua, saya juga meminta izin kepada nenek saya, dan Alhamdulillah “bekal” dan izin perjalanan sudah “turun” dari kedua orang tua dan nenek saya, setelah itu, saya menyiapkan perlengkapan, tapi sayang perlengkapan saya tinggal di Bandung, jadi hanya menyiapkan seadanya saja. Setelah sarapan dan semua siap, Valdy pun memberitahukan bahwa temannya dari Jakarta tidak bisa bergabung dikarenakan ada keperluan keluarga yang mendadak, dan perjalanan pun di mulai pukul 10:00 WIB menuju Rangkas Bitung.

Perjalanan dari Balaraja menuju Rangkas Bitung banyak memperlihatkan betapa kering dan gersangnya wilayah yang dilalui, perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam, setibanya disana kami disambut para tukang ojeg yang menawarkan jasanya, ada dua tukang ojeg yang berdiskusi dengan kami dan menawarkan jasanya untuk ke Ciboleger dengan tariff jasa ojeg Rp.120,000,00,- (lumayan “bekal” bisa langsung habis) dan jika sampai terminal Aweh kedua tukang ojeg itu meminta tariff Rp.15,000,00,-, tapi kami menawar Rp.10,000,00,- dan setelah berargumen dan memegang teguh pendirian akhirnya sepakat dengan harga Rp.10,000,00,- untuk menuju terminal Aweh (masih di dearah Rangkas/Lebak Banten). Setelah tiba di terminal Aweh kami mendapati transportasi angkutan yang menuju Desa Ciboleger sudah bersiap berangkat (kurang lebih begitu kata calonya), dan ternyata setelah kami naik sudah hampir penuh penumpang, dan mobil pun masih belum berangkat, dan baru pada pukul 11:35 WIB mobil pun berangkat menuju Desa Ciboleger (desa luar yang menjadi pintu masuk menuju Baduy Luar dan Baduy Dalam).  Ternyata didalam mobil kami bersama penumpang yang juga akan berkunjung ke Baduy berasal dari daerah Jakarta, dalam satu komunitas yaitu Wisata Budaya, dan ternyata komunitas ini di pandu oleh Pak Ahmad yang sudah sering dan kenal dengan masyarakat Baduy.

225023_459374734095888_428966879_n

Perjalanan menuju Desa Ciboleger sangat jauh dan panjang dengan lebar jalan yang hanya pas untuk dua kendaraan roda empat. Perjalanan menanjak, berkelok, dan pemandangan hamparan wilayah hutan lindung dan bukit-bukit menjadi pemuas mata. Setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya kami tiba di Desa Ciboleger pada pukul 12:45 WIB. Setelah tiba di Desa Ciboleger kami membeli bekal makanan (belinya di Alfamart, lho.. ), lalu melihat-lihat souvenir yang bisa dibeli setelah pulang dari Baduy, tak lama melihat-lihat, kami langsung bergabung dengan rombongan Pak Ahmad, dengan membayar Rp,5,000 di kepala Desa Baduy luar.

(info: kalo ada yang meminta biaya masuk atau retribusi saat di pintu masuk Baduy luar jangan diberi, katanya sih itu illegal..)

..lanjut lagi, setelah membayar ,kami diberi buah asem, berbentuk hitam, kata warga Baduy kalau memakan 3 Biji bisa kuat jalan, rombongan kami di temani oleh Pak Narja, dan Kang Sarta dan Satu lagi (lupan namanya kang..hehe), kami berjalan didepan sembari menunggu rombongan lainnya yang dibelakang, sebenernya tujuan kami adalah Baduy dalam Ds.Cibeo, lalu kami berpisah dan di temani oleh Pak Narja dan Kang Sarta menuju kediaman Pak Narja di Ds.Cibeo Baduy dalam, dalam perjalanan menuju Ds.Cibeo kami melewati beberapa perkampungan warga Baduy Luar dan Baduy Dalam, melewati sungai, dan tak jarang dijumpai kelompok Ibu-Ibu dan wanita Baduy mandi dan mencuci pakaian di sungai (biasanya di wilayah Baduy luar sering dijumpai, dan saya berkesempatan melihatnya, hehe..), menyebrang sungai diatas jembatan bambu ada rasa tersendiri, begitu indah ternyata alam di daerah Baduy, (lanjut perjalanan – singkat cerita), saat akan memasuki wilayah Baduy dalam, segala alat komunikasi kami matikan (tidak ada alat komunikasi (Handphone) di Baduy dalam), sebelum memasuki wilayah Baduy dalam, kami berfoto-foto ria dahulu,

399028_4152220817416_959740_n IMG_0027 

setelah memasuki wilayah baduy dalam, suasananya begitu hening, sunyi dan tenteram, jarang kami menemukan warga Baduy dalam, hanya sesekali menjumpai anak-anak kecil Baduy dalam sedang asik bermain, saat mendekati Ds,Cibeo, kami bertemu dengan “tanjakan cinta” (tanjakkannya mantap deh pake gigi 1 juga masih aja berat, hehe), di perjalanan kami menemui tempat penyimpanan gabah padi, dan letaknya berjauhan dari perumahan warga, lalu saya bertanya ke Pak Narja “Pak, kok ini ditaruhnya jauh sih da dekat sama rumah warga?”, Pak Narja menjawab “ya itu sudah tradisi disini, kalau ditaruh dekat dengan rumah warga nanti kalo terjadi kebakaran bagaimana? Kan bisa ikut kebakar juga gabah padinya”, saya “ oh, gitu, emang ga takut diambil atau dimaling orang Pak, kalo ditaruh jauh dari rumah?”, Pak Narja “disini mah (Baduy), siapa yang berani ambil barang milik orang, ga akan ada yang berani, hehe”, hmm..hebat ya warga Baduy mereka sudah berpikir sejauh itu, kita aja kalo simpen beras masih didalam rumah didapur, dan masih takut kehilangan atau diambil orang,benar-benar sifat Jujur yang alami..

Tak lama kami tiba dikediaman Pak Narja kira-kira Pukul 15:45 WIB (kurang lebih 2 jam dari pukul 13:15 perjalanan dari Ds.Baduy luar kalo cepat, kalo lambat bisa 5 jam ,begitu kata Pak Narja)..

Dirumah Pak Narja kami bertemu dengan Istri Pak Narja, dan anak perempuan Pak Narja yang dimana itu adalah Istri dari Kang Sarta, Kang Sarta memiliki anak namanya “Jermain” (semoga betul penulisannya, hehe..) , menjelang sore warga Baduy Dalam Ds.Cibeo berdatangan dari ladang, bahkan ada yang berhari-hari menginap diladang, dan ternyata kami tidak sendiri ada rombongan lainnya dari luar yang datang ke Ds.Cibeo Baduy Dalam, menjelang senja, suasana di Ds.Cibeo begitu tenang, sunyi dan damai, hanya terdengar suara orang berbicara dan suara burung malam, tapi saat itu sedang terang bulan, menikmati malam di Baduy dalam Ds.Cibeo….

(info: untuk tamu yang akan bermalam di Baduy dalam tidak boleh lebih dari 3 malam, kalo lebih pasti akan diusir oleh Pu’un desa)..

Menikmati malam dengan bercengkerama Tanya jawab tentang penyakit yang biasa diderita dan  biasanya mereka minum obat namanya:

“Obat Gotong Royong”

(mau cari sampe luar Negeri juga ga akan ketemu, dan obatnya ampuh bin mujarab, hehe, begitu kata Pak Narja…)

dan ngobrol ria sambil merenungi kehidupan warga Baduy Dalam yang bersahaja dan sederhana..

26 Agustus 2012 (Ds.Cibeo-Baduy-Ciboleger-Rangkas-Rumah)

Saya bangun tidak dapat melihat jam berapa ini, karena sangat gelap sekali, hanya bisa mendengar Pak Narja sedang mempersiapkan kayu bakar untuk menyalakan api,udara pagi hari saat itu begitu dingin, walau tak sedingin udara pegunungan, tapi begitu kerasa dinginnya, saat Pak Narja mulai menyalakan api, baru terlihat dijam tangan baru pukul 03:25 WIB (wihh, masih pagi bray..) si Valdy juga masih sare, tapi saya sudah terbangun ,dan memperhatikan Pak Narja dengan cekatan membuat perapian dan minuman hangat untuk kami,

“tos hudang?” sahut Pak Narja, saya “ hmm, muhun Pak,” pak Narja “banyak nyamuk ga? Tidurnya nyenyak ga?” saya “ga ada nyamuk pak, karena udaranya juga dingin, ya nyenyak pak, hehe.”, tak lama Valdy mulai membuka mata,”hudang bray” sahut saya, Valdy “jam sabraha ieu bray?” saya “jam opat leuwih, bray, shalat Subuh moal?”, Valdy “ he eh hayu bray..”, kami shalat Subuh, setelah selesai shalat Subuh, kami bercengkrama sambil menikmati nikmatnya kopi hangat (sedapp..bray..), saat pagi sudah tiba, kami pun keluar dari rumah untuk menikmati udara pagi di Baduy dalam yang masih segar dan asri..ternyata rombongan lain sudah pada bangun, dan membawa handuk, (kita aja belum, hehe)..

“mau dibuatin gelang?” sahut kang Sarta kepada kami, “maneh edeuk moal, ki?, sahut Valdy, saya” he eh atuh bray.” Boleh kang,,sambil menunggu waktu kami berdua bergantian menunggu sambil melihat kang Sarta membuatkan gelang dari akar pohon handam yang seperti pohon pakis,sangat bagus hasilnya. Setelah selesai kami bersiap untuk membersihkan badan, “bray, maneh rek mandi moal?” sahut Valdy, saya “urang mah sibeungeut weh ,bray”, kami pun membersihkan diri, di sungai belakang desa cibeo, airnya sangat jernih, dan dingin, banyak rombongan yang membersihkan diri juga, tempat mandi perempuan dan laki-laki hanya dipisahkan oleh batas jembatan, jadi masih tetap terlihat juga..

Pukul 07:30 kami bersiap kembali ke Desa Ciboleger, dengan rute via jembatan akar,  yang menjadi tempat menarik di Baduy. Dalam perjalanan pulang jarak tempuhnya cukup jauh dari jalan berangkat dari Ciboleger, tetapi kami dapat melihat pemandangan yang cukup indah, saat di jembatan akar, pemandangannya begitu indah, dan sejenak kami berendam di sungai yang jernih dan berarus sedang..

IMG_0042

    IMG_0053

Singkat cerita kami tiba di Ds.Ciboleger pada pukul 10:40 wib, kami pun beristirahat sejenak, saya dan valdy diskusi untuk memberikan tips atas jasa Pak Narja dan kesediaannya mempersilahkan menginap dirumah beliau, kami memberikan uang sebesar Rp 70,000, tadinya mau diberikan tas kain, tapi mereka tidak mau menerima pemberian barang, lalu kami bersiap menaiki mobil Elf menuju rangkas bitung dan pulang.

IMG_0066

Ada rasa haru dan senang bisa bertemu dan kenal dengan keluarga Pak Narja dan kesahajaan masyarkat Baduy, mereka tetap dapat bertahan hidup diantara batas jaman yang sudah berbeda..

#i’ll come back again, I promise it..!

Informasi

Budget:

Balaraja-Rangkas Bitung (Naik Minibus 3/4 Jurusan Rangkas  Rp 25.000)

Rangkas Bitung-Terminal Aweh (Ojeg Rp 10,000)

Terminal Aweh-Ciboleger (Elf Rp 20,000)

(_Ekki I Jumaati_)

One thought on “Baduy Diantara Batas Jaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s